HIMAJEP Gelar kegiatan dialog Interaktif dengan Tema “Wacana kenaikan tarif PPN, Solusi atau Masalah ?

Sesi Foto bersama HIMAJEP

Berawal dari kepekaan terhadap sebuah rancangan kebijakan yang dianggap masih perlu ditinjau kembali keberadaannya tentang wacana naiknya tarif PPN di segala sektor mulai dari pendidikan hingga sembako yang kemungkinan akan mencekik rakyat.

 

kebijakan ini cukup melegakan buat bendahara negara yang tengah berupaya keras menambal defisit fiskal. Soal bakal ada kelompok masyarakat yang kurang diuntungkan, itu konsekuensi dari kebijakan yang tidak bisa menyenangkan semua pihak.

 

Defisit fiskal yang menembus 6% dari PDB-melampaui batas aman 3% PDB-memang menjadi perkara besar bagi penyelenggara negara. Krisis ekonomi yang dipicu pandemi Covid-19 memaksa pemerintah melakukan kebijakan extraordinary yang ongkosnya sangat-sangat mahal.

 

Bantuan sosial, misalnya, di satu sisi sangat dibutuhkan masyarakat kecil tetapi di sisi lain cukup membebani anggaran belanja negara. Demikian pula dengan insentif perpajakan, meskipun menggerus penerimaan negara tetapi dalam kondisi krisis seperti sekarang sangat diperlukan untuk mengurangi beban ekonomi wajib pajak, terutama dunia usaha. Alhasil, berutang menjadi pilihan tak terhindarkan di tengah upaya puluhan tahun pemerintah mencicil utang ribuan triliun warisan zaman.

 

Keadaan dilematis ini memaksa pemerintah mengarahkan kearah kebijakan itu, namun apakah ini adalah langkah yang paling solutif ?

Atas kegelisahan itu HIMAJEP mebuat kegiatan Dialog interktif untuk menjawab kegelisahan yang masih koma untuk mengarahkannya pada kepastian titik.

 

Ketua Umum HIMAJEP Andi Afdal Assegaf mengungkapkan kegiatan ini bagian dari pada kepedulian sosial , “ program kerja ini bukan hanya sekedar program kerja yang kami kerjakan lalu usai begitu saja, kami berharap dengan adanya kegiatan dialog interaktif ini mampu meningkatkan nilai – nilai kepekaan mahasiswa khususnya mahasiswa ekonomi dalam merespon kebijakan pemerintah

 

Kemudian Ketua Umum Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Darmawan mengungkapkan mahasiswa perlu menggenjot kembali jiwa *Kritis Transformatif* untuk mengawal kebijakan yang merubah kepada hal yang lebih baik ataupu sebaliknya “
mahasiswa harus mengambil peran dalam mengawal kebijakan-kebijakan yang ada dan yang akan lahir , dan mampu menganalisa secara konfrehensif kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya”

 

Muhammad fatonah menyimpulkan “Wacana kenaikan PPN terhadap pendidikan menjadi dampak besar terhadap antusias dan aksebilitas generasi X dalam mengonsumsi pendidikan, jasa pelayanan sosial dan generasi milenial kedepan akan terberatkan termasuk Jasa tenaga kerja dan aksebilitasnya terhadap angkatan kerja apatah lagi Milenial sebagai kelompok dengan tingkat konsumtif paling tinggi menghadirkan kekhawatiran generasi X terhadap inflasi dan daya beli ”

Kebijakan ini masih belum sempurna untuk diejawntahkan, masih banyak sektor lain yang lebih berpeluang untuk diperdayakan ditengah keadaan yang mencekik sekarang, kita hanya butuh kejujuran dan ketekunan dalam pelaksanaannya Indonesia dengan keunggulan sumber daya alam bisa menjadi hal yang solutif jika disandarkan pada program yang tepat guna, tentu dengan menggerus KKN( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) terlebih dahulu karena apapun itu jika ketiganya masih menjadi virus di ibu pertiwi maka tidak ada masa depan bagi Negara ini .