Pandemi, Pengangguran, dan Generasi Muda Bertani

Renaldo Gizind (Universitas Sriwijaya) | 16/4/2021 

Agrojabar.go.id

Indonesia sedang menghadapi permasalahan meningkatnya jumlah pengangguran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Agustus 2020 terjadi peningkatan pengangguran sebanyak 2,67 juta orang sehingga menjadikan jumlah pengangguran terbuka saat ini sebanyak 9,77 juta orang. Penyebab utamanya adalah pandemi Covid-19. Pandemi yang melanda mengganggu tatanan perekonomian sehingga sebagian besar sektor lapangan usaha mengalami dampak negatif.

 

Bagi lapangan usaha, ketika kondisi seperti ini, pilihan yang paling rasional adalah melakukan pemangkasan biaya untuk menekan pengeluaran agar mendapatkan profit atau minimal tidak merugi terlampau tinggi. Salah satu pilihannya adalah memangkas jumlah tenaga kerja yang kemudian muncullah fenomena PHK terjadi di mana-mana, dan secara otomatis menyebabkan pengangguran meningkat.

 

Bagi penduduk usia muda, Covid-19 yang menyebabkan jumlah pengangguran meningkat menjadi beban tersendiri. Pasalnya, Indonesia saat ini tengah memasuki suatu fase yang langka, yakni bonus demografi.

 

Bonus demografi adalah suatu kondisi di mana proporsi penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang usia non produktif. Pada fase ini, rasio ketergantungan (dependency ratio) akan berada di bawah taraf 50% yang artinya dua orang usia produktif akan menanggung setidaknya satu orang usia non produktif. Bonus demografi tersebut diprediksi mencapai puncaknya 2030 sebelum akhirnya akan menunjukkan kembali peningkatan rasio ketergantungan dan melewati fase ini pada tahun setelahnya.

 

Meskipun bonus demografi sebenarnya merupakan peluang untuk meningkatkan perekonomian suatu negara, tetapi kondisi bonus demografi saat ini sedang mengalami gangguan akibat pandemi. Jika sudah demikian, generasi muda pada era pandemi ini harus bersiap mengantre cukup panjang untuk mendapatkan pekerjaan karena daya serap di pasar tenaga kerja yang sedang lesu.

 

Beralih

Pandemi telah membuat sebagian besar sektor lapangan usaha mengalami kontraksi ekonomi. Bahkan, Indonesia masuk dalam jurang resesi dengan selama dua kuartal berturut-turut mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif, yakni pada kuartal III dan IV tahun 2020 lalu.

 

Meskipun hampir seluruh sektor terdampak, tetapi masih ada sektor ekonomi yang mencatatkan kinerja pertumbuhan positif selama pandemi berlangsung. Salah satu sektor tersebut adalah pertanian. Pada kuartal I-2020 sektor ini tumbuh sebesar 0,01 persen, kemudian naik menjadi 2,20 persen pada kuartal II, pada kuartal III mengalami penurunan sedikit menjadi 2,16 persen dan pada kuartal IV 2020 menunjukkan bahwa pertumbuhan pertanian tumbuh sebesar 2,59 persen.

 

Dengan kinerja yang baik tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu tiang penyangga perekonomian nasional di tengah Krisis ekonomi. Karena kokohnya sektor pertanian dari guncangan ekonomi saat pandemi, masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidupnya pada sektor non-pertanian, kemudian terdampak hilangnya pendapatan yang diterima akibat krisis, akhirnya memilih untuk beralih memasuki lapangan kerja di sektor pertanian.

 

Menurut data BPS, pada Agustus 2020 terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor tersebut sebesar 29,76 persen dibandingkan Agustus 2019.

 

Petani Milenial

Sebelum pandemi, barangkali kaum muda menganggap petani bukan merupakan suatu pekerjaan yang keren. Tidak jarang juga, orangtua yang bekerja di sektor tersebut mengharapkan anaknya tidak akan melanjutkan usahanya karena dekatnya petani dengan kemiskinan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan adanya fenomena krisis penuaan di sektor pertanian Indonesia.

 

Lain halnya setelah pandemi melanda. Krisis ekonomi akibat pandemi turut juga membawa masyarakat khususnya usia muda untuk kembali memasuki dan menggeluti usaha di sektor pertanian. Justru, kini bermunculan petani-petani muda yang menamakan dirinya “petani milenial”. Petani milenial inilah yang kiranya menjawab tantangan krisis penuaan pada sektor yang vital bagi keberlangsungan pangan nasional ini.

 

Hadirnya generasi milenial ini menjadi angin segar bagi sektor pertanian kita. Pasalnya, generasi milenial merupakan generasi yang memiliki semangat dan daya kreativitas tinggi. Kesehariannya yang dekat dengan teknologi juga menjadi kelebihan dibandingkan petani-petani generasi sebelumnya. Dengan demikian, tidak jarang banyak petani milenial yang mampu mengembangkan, berinovasi, hingga akhirnya meraih kesuksesan dari usaha ini.

 

Perlu Didorong

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia telah membawa kembali minat generasi muda untuk bertani. Alhasil, sumber daya manusia pertanian kembali teregenerasi dengan hadirnya “petani milenial”. Pemerintah perlu mendorong, memberikan dukungan, serta memberikan bantuan yang dibutuhkan bagi mereka yang sedang merintis usaha di bidang pertanian ini.

 

Hal itu dimaksudkan agar sektor pertanian kita semakin maju ke depannya dengan generasi milenial sebagai aktornya dan teknologi sebagai alatnya. Sehingga sektor pertanian mampu membuka lapangan kerja yang lebih luas lagi, berkontribusi secara maksimal bagi perekonomian, serta turut terlibat dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.