Peluang Ekonomi Digital Terhadap Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif Sebagai upaya Pemulihan Ekonomi Nasional Pada Saat Pandemi Covid-19

Meisyaroh Catur Wulandari (Universitas Negeri Surabaya) | 02/1/2021 

Siaran Pers Kemenparekraf

Akhir tahun 2019 dunia digegerkan dengan adanya pasien yang diteliti menunjukkan  infeksi coronavirus jenis betacoronavirus tipe baru yang diberi nama Novel  Coronavirus (2019-nCoV) atau disebut covid-19 yang ditemukan di Wuhan, China (BBC.com, 2019). World Health Organization (WHO) sendiri menetapkan covid-19  sebagai pandemi global, sebab sudah menyebar sekitar 250 lebih negara dan mampu  menggoncang perekonomian negara. Hal ini dibuktikan dari laporan keuangan dari  setiap negara yang mengalami penurunan perekonomian. Contohnya Singapura dengan  pertumbuhan ekonomi -2,2 dan China mengalami penurunan sampai -6,8. Covid-19  tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan tetapi juga berdampak pada bidang  ekonomi dan sosial. Dikutip dari website kemenkeu bahwa tidak ada satu ahli dari 

 

negara mana pun yang dapat memprediksi dan mengetahui dengan pasti perkembangan  virus ini kedepan. Bahkan negara maju sekalipun seperti New Zealand dan Swedia yang  saat ini memberlakukan kebijakan yang berbeda antar negara, sebab belum taunya  kebijakan yang optimal untuk menghadapi tantangan global ini. Badan Pusat Statistik  (BPS) juga telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal 2 yakni  mengalami pertumbuhan negatif 5,32% yoy.

 

Meski ekonomi Indonesia terancam pada jurang resesi, sekarang masih terdapat sektor  usaha yang dapat menunjukkan pertumbuhan positif seperti sektor makanan, farmasi  dan teknologi. Tetapi juga terdapat sektor yang tumbuh negatif karena dampak covid-19  seperti sektor pariwisata, transportasi, restoran, hotel, dan hiburan. Dalam menghadapi  situasi Covid-19 di Indonesia dilakukan penyesuaian kembali terhadap postur dari  APBN yang dituangkan dalam Perpres 72/2020. Sebanyak 125,4 triliun APBN  dilimpahkan untuk penanganan covid-19 dengan subsidi bunga untuk UMKM, bantuan  sosial tunai dan non tunai, memprioritaskan belanja penanganan covid-19 guna  pemulihan ekonomi nasional kedepan.

 

Menurut data dari Kementrian Pariwisata, sektor pariwisata menunjukkan  perkembangan signifikan dan ditetapkan sebagai sektor unggulan penyumbang devisa  negara sepanjang pemerintahan Jokowi-JK. Didukung dengan ribuan destinasi wisata di  Indonesia, baik yang sudah populer maupun yang masih belum optimal. Dilansir dari  World Economy Forum (WEF) capaian sektor pariwisata harus diakui dimana indeks  daya saingnyna telah menunjukkan perkembangan, yakni dari peringkat 50 menjadi 42 di dunia. Maka dari itu jika ditarik benang merah sektor pariwisata berkaitan dengan  sektor lain, apabila sektor inti terpuruk maka sektor lain juga berdampak.

Terdapat kurang lebih 2000 hotel di Indonesia tutup, mall, restoran, dan lainnya. Sebanyak 32,5  penduduk yang tidak langsung bekerja di bidang pariwisata, sebagian dari mereka di  PHK dan dirumahkan. Selanjutnya dalam rangka upaya pemulihan ekonomi nasional,  pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat melaksanakan kegiatan percepatan  pemulihan sektor pariwisata dengan memaksimalkan sektor yang bertumbuh positif dengan pertimbangan faktor kesehatan dan ekonomi.

 

Setidaknya terdapat tiga hal yang  menjadi perhatian penulis. Pertama adalah memaksimalkan sektor yang mengalami  pertumbuhan. Yakni dengan perluasan pemanfaatan sektor digital merupakan pilihan  yang tepat untuk recovery pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Salah satunya  sektor pariwisata dapat terbantu dengan adanya digitalisasi pariwisata, dan memberikan  kesempatan bagi sektor ekonomi kreatif untuk memperluas jaringannya. Karena secara  tidak langsung semua sektor dipaksa untuk melakukan digitalisasi diberbagai aspek  kehidupan. Manfaat lain dari digitalisasi pada masa pandemi yakni menghindari risiko  tertular covid-19 dan dapat memutus mata rantai covid-19.

Kedua adalah menggenjot konsumsi produk industri kreatif karya anak bangsa. Sejak  tahun 2015 telah ramai di Indonesia terkait e-commerce yang berfungsi sebagai wadah  promosi, jual beli, diskusi, review, dan kegiatan ekonomi lain dalam satu aplikasi. Ini  sebagai bukti pemanfaatan digitalisasi pasar di Indonesia yang produktif dan efisien.  Selain itu nantinya usai pandemi covid-19 ini selesai, pemerintah akan tetap mendukung  sektor ekonomi berbasis teknologi. Sebab akibat dari pandemi ini adalah perubahan  perilaku dari kegiatan yang sering dilakukan secara offline sebelum pandemi, dan  kegiatan beralih menjadi online sebab adanya shifting dari transformasi digital.

Ketiga, sektor hiburan dan pariwisata yang terdampak mulai sekarang juga harus  memanfaatkan adanya shifting teknologi digital. Supaya peranan dari sektor hiburan dan  pariwisata dapan berjalan seperti sebelum adanya pandemi dan dapat menekan tingkat  stres masyarakat sebab pandemi yang tidak kunjung usai.

 

Dengan memperkuat sistem kesehatan masyarakat, mempertinggi kesadaran hidup  sehat, menerapkan adaptasi kebiasaan baru, serta mendorong pemanfaatan teknologi  digital pada sektor yang berdampak maka akan membantu perceatan pemulihan  ekonomi nasional saat pandemi covid-19.