Peluang UMKM Indonesia Dalam Pemulihan Stabilitas Ekomoni Nasional Di tengah Tantangan Pandemi Covid-19

Choriah indah Utami  (Universitas trilogi Jakarta) | 02/1/2021 

Pengrajin di Sektor UMKM (Infonawacita)

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sudah banyak tersebar di seluruh  pelosok Indonesia dimana masyarakat Indonesia banyak yang menggantungkan kehidupan  sehari-harinya dengan bergabung UMKM. Karena hal itu, dalam perekonomian di Indonesia  UMKM merupakan sebuah kelompok usaha yang dinilai memiliki jumlah paling besar dan  pada saat sedang maraknya terbentuknya dan tersebarnya UMKM, usaha ini juga diprediksi  mampu kuat dan dapat bertahan di dalam goncangan krisis ekonomi. Hal itulah yang menjadi  faktor ketertarikan banyak masyarakat yang membidik usaha ini. Selain itu, kriteria usaha  untuk tergabung dalam kelompok UMKM juga memiliki payung hukum yang jelas sehingga  banyak masyarakat tidak merasa khawatir dalam menjalankannya.

 

Pada tahun 2016, Presiden RI pernah mengatakan bahwa UMKM merupakan  penopang perekonomian di suatu Negara dan juga UMKM dipercaya dapat memiliki daya  tahan tinggi bahkan krisis global melanda (Amalia, 2020). Namun hal itu dikatakan sebelum  pandemi Covid 19 memporak porandakan seluruh pelosok Negara sehingga dampak yang  ditimbulkan sangatlah negatif bagi banyak sektor termasuk pada sektor UMKM di Indonesia.  Berbagai kebijakan lockdown yang diterapkan oleh banyak Negara serta Indonesia pun tidak  ketinggalan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan dengan tujuan menekan penularan virus  mematikan ini sehingga Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi sektor yang  berada di garis terdepan akibat goncangan Pandemi Covid 19.

 

Dampak positif dengan adanya UMKM di Indonesia memanglah menguntungkan  namun dengan adanya Covid 19 dampak positif tersebut berputar 180 derajat menjadi negatif  yang dirasakan oleh Indonesia khususnya para pelaku UMKM dimana tercatat sebanyak  1.785 koperasi dan 163.713 pelaku usaha mengalami dampak tersebut dimana kebanyakan  terjadi pada bidang kebutuhan sehari-hari. Menurut KemenKop UMKM mengabarkan sekitar  37.000 UMKM melaporkan bahwa terjadinya penurunan penjualan sekitar 56 persen (Thaha,  2020).

 

Tantangan UMKM di Masa dan Pasca Pandemi

Berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tujuan menekan angka  penularan Covid-19 merupakan suatu hal yang baik jika dapat dilakukan dan kompak  diterapkan bersama oleh seluruh masyarakat Indonesia. Kebijakan tersebut berupa sosialisasi  penerapan Social Distancing, Phisycal Distancing bahkan sampai pada pemberlakukan  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan kebijakannya khususnya di  Ibukota Indonesia yakni DKI Jakarta karena mengingat Jakarta menjadi Provinsi yang  memiliki jumlah kasus Covid-19 terbanyak di Indonesia.

 

Penerapan kebijakan tersebut justru menjadi sebuah tantangan bagi mayoritas pelaku  UMKM di Indonesia karena salah satu faktor keberhasilan sebuah usaha adalah promosi  sehingga Phisycal Distancing menjadi hambatan serta tantangan para pelaku UMKM untuk  bergerak mempromosikan produk-produknya di ruang pamer atau ruang promosi yang selama  ini dilakukan. Selain itu ketika tempat-tempat keramaian ditutup dengan tujuan tidak adanya  kerumunan maka nasib para pelaku UMKM yang memperkenalkan dan menjual produknya  terpaksa harus kehilangan moment-moment ramainya pengunjung dan daya beli pengunjung  yang semakin berkurang.

 

Dengan adanya pandemi Covid 19 ini semua masyarakat dipaksa untuk beradaptasi  dan melakukan kebiasaan-kebiasaan baru dengan semua kegiatan dilakukan secara online  begitu juga dengan UMKM yang dimana para pelaku usaha berlomba-lomba untuk  melakukan branding pada media sosial. Hal ini pun juga menjadi sebuah tantangan baru bagi  pelaku UMKM pasca Pandemi Covid 19 karena dengan kebiasaan baru tersebut pelaku  UMKM mau tidak mau mengikuti pola dan kebiasaan konsumen dengan memperkenalkan  produknya lewat media sosial. Namun, tidak sedikit para pelaku UMKM yang melek akan  teknologi dan juga kurangnya inovasi untuk mengembangkan produk-produknya sehingga  dapat menarik calon konsumen.

 

Peluang UMKM Ditengah Wabah Covid 19

Ditandai dengan Pemerintah Indonesia mengeluarkan Undang-Undang Nomor 20  yang berisikan pemberlakuan atas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada tanggal  4 Juli 2008 menandai bahwa UMKM memiliki landasan payung hukum yang kredibel  sehingga masyarakat tidak khawatir untuk ikut tergabung dalam kelompok UMKM.

 

Ditengah wabah yang sekarang sedang dihadapi oleh semua Negara sudah seharusnya  tidak berputus asa dalam penanggulangannya. Pada sektor UMKM masih memiliki peluang 

untuk terus bangkit dalam keterpurukan dampak negatif yang dihadapkan yakni dapat  meningkatkan kreatifitas dan inovasi pada berbagai sosial media untuk memperkenalkan  produk- produk dan dapat bersaing dalam pasar nasional maupun internasional.

 

Peluang UMKM sebagai Faktor Pendorong Stabilitas Ekonomi Nasional

Menurut catatan Biro Pusat Statistik bahwa sektor UMKM pada tahun 2019 mampu  memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto Nasional hingga tumbuh diangka  5%, Kementrian Koperasi dan UMKM juga menargetkan bahwa meningkatnya kontribusi  UMKM pada nilai ekspor pada akhir 2020 menjadi 18% yang tadinya hanya 14%. Maka dari  itu pemerintah masih terus berusaha dan berupaya untuk memberikan peluang agar UMKM  dapat terus menopang, memperkuat, memperkokoh dan menstabilitaskan perekonomian  Indonesia.

 

Upaya pemerintah untuk memberikan peluang agar terciptanya stabilitas ekonomi  Indonesia adalah dengan memperbolehkan membuka usaha namun tetap menerapkan protokol  kesehatan, Kementerian Keuangan juga memberikan keringanan dalam hal pembayaran  karena dampak Covid-19 dan Kementerian Koperasi bekerja sama dengan Kementerian  Kominfo untuk berkomitmen mengonlinekan 8 juta UMKM dengan harapan mampu memiliki  daya saing di pasar nasional maupun internasional agar perekonomian Indonesia dimana  UMKM menjadi tulang punggung dapat stabil pasca pandemi.