Presiden IMEPI: Saatnya Wujudkan INVESTASI HIJAU

Investasi Hijau telah menjadi wacana menjanjikan untuk kembali digulirkan, utamanya pada sektor Ekonomi Nasional.

Bukan tanpa alasan, konsep Investasi Hijau yang mengutamakan kepedulian terhadap lingkungan dianggap dapat menjadi solusi atas masalah kerusakan lingkungan yang melanda dunia dan khususnya Indonesia.

Bencana Banjir di Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu, sudah seharusnya menjadi catatan kritis bahwasanya perlu ada kepedulian yang lebih serius terhadap kerusakan lingkungan di Indonesia.

Konsep Investasi Hijau sendiri, telah menjadi solusi dan telah diterapkan diberbagai Negara Negara di dunia.
Data yang dihimpun KATA DATA ID menyebutkan bahwa tren Investasi Hijau berbasis Environmental, Social and Governance (ESG) kian meningkat dan populer diberbagai Negara Negara di dunia.
Hal ini mengacu pada jumlah aset Investasi hijau dari berbagai Negara yang kian meningkat dari tahun 2016-2018, sebut saja Jepang sebesar 417 Juta US$ di tahun 2016 menjadi 2.180 di tahun 2018, begitupun dengan Amerika di angka 8.723 US$ di tahun 2016, menjadi 11.995 di tahun 2018.
Berikut Infografis Data Diatas:

Hal diatas juga selaras dengan laba/keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan perusahaan yang menerapkan Basis ESG dalam Investasi.
Disebutkan oleh hasil survey Asean-Japan Centre 2018, margin dihitung dari laba bersih 143 perusahaan dibagi total pendapatan periode 1990-2018 di 10 perusahaan Industri dari 10 negara Asean, menyimpulkan bahwa keuntungan laba bersih perusahaan dengan basis ESG lebih besar 11,41% dibandingkan Non ESG yang hanya sebesar 9,61%.

 

Jika kita tarik lebih mendalam terhadap problem Nasional,
Isu lingkungan dan Sosial nampaknya belum benar-benar menjadi bagian integral dalam proses pembangunan. Berdasarkan studi Indeks Daya Saing Daerah Berkelanjutan (IDSDB) yang dirilis Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) pada 2020, rata-rata skor IDSDB nasional sebesar 52,57 persen. Angka tersebut masuk ke dalam level sedang apabila mengacu standar klasifikasi daya saing menurut Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN). Klasifikasi levelnya: rendah (00-30,00), sedang (30,01-60,00), tinggi (60,01-80,00), dan sangat tinggi (80,01-100). Secara lebih detail, mengacu studi yang dilakukan terhadap 356 kabupaten di Indonesia tersebut, hanya 3,09 persen daerah yang masuk dalam level tinggi. Adapun sebanyak 96,91 persen daerah menempati level sedang. IDSDB mengukur daya pembangunan suatu daerah berbasis pilar lingkungan lestari, ekonomi, tangguh, sosial inklusif, dan tata kelola yang baik. Itu artinya, sebagian besar daerah belum sepenuhnya memperhatikan kelestarian lingkungan dan prinsip-prinsip keberlanjutan sosial, ekonomi, dan tata kelola. Apalagi ketimpangan sangat terlihat berdasarkan wilayah Timur dan Barat. Dalam kategori level sedang, sebanyak 79,94 persen daerah berada di Indonesia Barat sedangkan sisanya berada di wilayah Timur. Menurut studi tersebut, kesenjangan utamanya terjadi pada pilar ekonomi dan sosial inklusif. Untuk pilar ekonomi terkait dengan ketersediaan infrastruktur ekonomi, ekosistem investasi, dan kemampuan keuangan daerah. Sedangkan pilar sosial inklusif terkait kualitas sumber daya manusia. Situasi yang ada saat ini tentunya perlu diperbaiki. Salah satunya dengan mendorong investasi yang memiliki dampak positif bagi masyarakat yakni Impact Investing.

 

Ini merupakan skema investasi yang bertujuan mengatasi persoalan sosial dan lingkungan. Di sisi lain, tetap menghasilkan keuntungan finansial bagi investor. Skema investasi ini memiliki sasaran yang beragam. Di antaranya pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, konservasi, pendanaan mikro, dan akses pelayanan dasar seperti perumahan, kesehatan, dan pendidikan. Melansir dari informasi Global Impact Investing Network (GIIN), salah satu contoh keberhasilan Impact Investing ada di India. Praktiknya melibatkan investor bernama Lok Capital yang menanamkan modal ke Layanan Medis Disha (Dristhi-Eye Centre). Lok Capital mempromosikan pertumbuhan inklusif di India dengan membuat investasi ekuitas jangka panjang. Diluncurkan pada 2006, Lok Capital mendukung perusahaan yang berfokus dalam penanganan masyarakat berpenghasilan rendah dan pasar lain yang tidak terjangkau secara komersial. Adapun Dristhi-Eye Centre menjangkau masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses perawatan mata berkualitas. Perusahaan ini mampu menciptakan model khusus untuk perawatan mata berkualitas dengan biaya rendah.

 

Dari berbagai data data diatas, maka momentum saat ini sangat tepat, dengan melihat kondisi kerusakan lingkungan di berbagai daerah di Indonesia yang kian parab, dapat menjadi solusi melalui Investasi Berbasis ESG yang berorientasi bukan hanya pada keuntungan tetap juga pada kepedulian terhadap aspek lingkungan.