REFLEKSI SUMPAH PEMUDA: Melihat Kekuatan Pemuda Dalam Membangun Bangsa

Ikhwan Saputra (Presiden IMEPI) | 28/10/2020 

Jika kepemimpinan telah mengalami stagnansi, itulah saatnya untuk regenerasi. Kepemimpinan yang lamban dan minim terobosan adalah jenis kepemimpinan yang karatan. Dibutuhkan darah muda, darahnya para pemula yang segar dan bertenaga. Agar bangsa bisa terus bergerak maju tidak mandeg layaknya orang yang encok melulu. Jika idealisme jadi kemewahan terakhir anak muda, masih cukup idealiskah para pemimpin muda kita? ~Najwa Shihab

 

Apa itu pemuda? Satu pertanyaan dengan banyak versi jawaban, tergantung siapa yang menjawabnya, UNESCO memaknai pemuda kepada mereka yang berada pada masa transisi dari masa kanak-kanak menuju periode dimana si “mereka” dituntut untuk menjadi lebih mandiri, independen serta diharapkan memiliki kepekaan sebagai bagian dari masyarakat tempatnya beraktivitas, dengan batasan rentang usia antara 15-24 tahun.

Sedangkan Indonesia, melalui UU 40/2009 tentang Kepemudaan mendefenisikan pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun, itu definisi pemuda dari UNESCO dan UU Kepemudaan.

Bung Karno pernah mengeluarkan kalimat sakti terkait pemuda, “Berikan aku 10 orang pemuda, maka kuguncang dunia” kira-kira begitulah bung besar Sukarno memaknai betapa ganas potensi anak muda jika mereka dibina, diarahkan serta digerakkan, lihat saja tawuran-tawuran pelajar atau perang antar suporter sepak bola, mereka semua anak muda, atau mayoritas pada suporter sepak bola. Nekat dan sangat “darah muda”.

Darah-darah muda jugalah yang membuat sejarah mencatat peristiwa Rengasdengklok, peristiwa pada suatu malam dibulan Agustus, dimana para pemuda mendesak para “kaum tua” untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, dengan cara mengancam, disertai penculikan bung Karno dan bung Hatta ke daerah bernama Rengasdengklok, Jawa Barat.

Tanpa peristiwa Rengasdengklok, mungkin bangsa ini tidak merayakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Atau tanpa gelombang mahasiswa, buruh dan segala elemen pergerakan ditahun 1998, tentu kita tidak akan menikmati kebebasan berpendapat seperti yang kita lakukan di media sosial di setiap waktu kita.

 

Darah muda para pemuda memang sebuah aset berharga bagi bangsa dan pemuda itu sendiri, ditambah binaan dan arahan yang tepat, akan menjadi sesuatu yang luar biasa, dimasa lalu banyak tokoh-tokoh bangsa yang terjun ke dunia pergerakan pada usia muda.

Bung karno misalnya beliau mendirikan Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927 pada saat usianya 26 tahun, Sutan Sjahrir menjadi ketua PNI Baru pada usia 23 tahun, atau DN Aidit yang pada usia 28 tahun menjadi ketua partai fenomenal PKI.

Mari kita merefleksi sejarah terbesar Pemuda di Bangsa kita Indonesia, 92 tahun waktu berlalu sejak Sugondo Joyopuspito, Muhamad Yamin dan Amir Syarifudin, bersama pemuda Indonesia lainnya, bersepakat untuk merevolusi diri, dari manusia yang terjajah menjadi manusia-manusia muda yang memahami potensi kemudaannya untuk bersama-sama mempertahankan tanah dan air milik mereka dari jajahan kolonial Belanda.

Aku mendengar banyak kisah tentang mereka, tentang kongres pemuda pada 28 Oktober 1928. Aku mendengar kisah tentang perjuangan bangsa yang parsial dilebur dalam semangat persatuan oleh para pemuda dalam kongres yang sama. Aku mendengar sejarah tentang “Indonesia Raya”, yang dikumandangkan untuk pertama kalinya kala mereka bersumpah merdeka disana dalam bahasa yang sama. Sejarah bangsa yang dikenang dalam satu tema; Sumpah Pemuda.

Di momentum Sumpah Pemuda hari ini, tentunya permasalahan-permasalahan dan Tantangan Bangsa hari ini semakin besar. Kita tidak dapat lagi terus terusan terpanah akan kesuksesan Pemuda terdahulu selain daripada mengambil pelajaran berharga yang telah dilakukan Pemuda terdahulu kepada Bangsa ini.

 

Permasalah dan Tantangan Bangsa semakin kompleks hari ini, Pemuda sebagai pewaris di masa depan tentunya perlu memahami dan terlibat dalam agenda agenda kebangsaan dengan menyusun strategi dan peran dalam membangun Bangsa hari ini dan di Masa mendatang.

Tantangan Bangsa kita yang semakin Nyata muncul pada puncak Bonus Demografi yang akan dialami Indonesia pada tahun 2045, yang mana usia angkatan kerja muda/pemuda lebih besar dibanding angkatan kerja tua dengan Komposisinya kurang lebih 70 berbanding 30 persen. Artinya, jika jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa, 175 juta diantaranya akan berada pada usia produktif. Kondisi ini diprakirakan akan terjadi pada tahun 2020-2030 dan Puncaknya di tahun 2045.

 

Salah satu tindakan konkrit dalam menyongsong Bonus Demografi adalah dengan memberikan perhatian besar kita pada Sektor pendidikan saat ini. Pasalnya pendidikan merupakan sektor dimana manusia itu dibentuk. pola pikirnya, mentalnya, kedewasaannya, beberapa aspek itulah yang penting dalam membentuk manusia ideal Insan Kamil. Karena itu tak heran pendidikan menjadi sorotan tajam dalam menanggapi permasalahan dan isu kebangsaan, apakah sekolah sudah mampu mengaplikasikan kurikulum dengan baik?, dan apakah penenaman akhlak sudah masif dikalangan pelajar, sehingga sekolah tidak hanya menyelenggarakan sistem pengajaran saja. Itulah refleksi yang perlu dijawab oleh bangsa kita ini, sehingga generasi milenial mampu mengembangkan potensinya sebagai generasi yang berkemajuan.

 

Kepekaan sosial dan tanggung jawab moral

Penguatan Sektor Pendidikan tidaklah hanya dibebankan kepada Pemerintah sebagai sebuah lembaga Negara, aspek lain perlu dibangun di Bangsa kita dalam memperhatikan Pendidikan kita hari ini. Maka dalam hal ini, tentu bukan tidak mungkin indonesia akan mengalami suatu kemajuan, jika ujung tombak dari negara kita yaitu kaum muda sadar dan mau bersikap lebih produktif. Maka menjadi PR bersama
sebagai generasi milenials untuk mengentaskan problematika tersebut, apalagi generasi milinials didominasi oleh para mahasisiwa, yang memilki julukan Agent of social change agen perubahan sosial. Meminjam istilah Antonio Gramsci tentang Intelektual Organik, bahwa seorang terdidik tidak hanya memiliki kewajiban akademisinya saja, tetapi ia memikul beban dan tanggung jawab untuk melakukan
perubahan yang signifikan terhadap masyarakat di sekitarnya.

 

Hal ini selaras dengan tridarma perguruan tinggi yaitu, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Jika tirdarma perguruan tinggi ini mampu diaplikasikan oleh mahasiswa, maka bukanlah suatu wacana apa yang pernah dikatakan oleh Bung Karno “berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia”. Karena harapan bangsa yang maju ada pada tangan pemuda hari ini yang disebut generasi milinials. 

 

Bagi saya peranan seluruh elemen masyarakat meruakan suatu konsekuensi logis dari bangsa yang ingin melakukan perubahan. Al Quran Menjelaskan “sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaumnyanya sendiri tidak mau merubah dirinya sendiri”, melengkapi penjelasan Al Quran, Benjamin Frenklin pernah berkata ukuran dari manusia hidup adalah ketika ia melakukan suatu perubahan.