Tanaman Porang Mendorong Stabilitas Ekonomi Indonesia

M Arif Anugrah (Universitas Muhammadiyah Makassar) | 02/1/2021 

Yoyoh menunjukkan tanaman porang miliknya. (foto:Ahmad/SBS)

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, yang sebagian mata pencaharian adalah sebagai petani. Sektor pertanian bisa menopang
pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan, Saat ini sektor pertanian Indonesia dari sisi produksi merupakan sektor kedua paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, setelah industri pengolahan. Posisi sektor pertanian masih di atas sektor lainnya, seperti perdagangan maupun konstruksi. sektor pertanian terus memberi kontribusi positif untuk perekonomian Indonesia. Bahkan ketika sejumlah sektor perekonomian mengalami kontraksi atau penurunan pertumbuhan di masa pandemi, hal berbeda justru dicatatkan oleh sektor pertanian. Hal ini di sebabkan karena pusat produksi pertanian bukan di wilayah padat penduduk.

 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sektor pertanian justru mampu tumbuh di tengah pandemi Covid-19. Syahrul mengatakan bahwa sektor pertanian tercatat mampu tumbuh sebesar 16,4 persen. Hal tersebut disebabkan karena produk-produk dari sektor pertanian, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pernyataan Syahrul juga sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mencatat, sepanjang April-Juni 2020, kinerja sektor pertanian tumbuh 2,19 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 15,46 persen, menjadi sektor terbesar kedua. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 yang mengalami penurunan sebesar 4,19 persen (Q to Q) dan secara year on year (yoy) turun 5,32 persen. PDB pertanian tumbuh 16,24 persen pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara y0y, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19 persen. Adapun komoditas pertanian yang menjadi komoditi yang menjadi andalan ekspor ialah: sawit, karet, kacang mete, kelapa/kopra, tembakau, kakao, the, kopi dan lada. Namun ada jenis tanaman yang mugkin masih awam di masyarakat indoneisa namun memiliki nilai ekonomi yang tinggi yaitu tanaman porang, dan saat ini sudah mampu berkontribusi dalam produksi sektor pertanian.

 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor tanaman
porang sebanyak 60 ton atau setara Rp1,2 miliar ke Tiongkok, tanaman porang banyak di minati di pasar ekspor karena tanaman porang mengandung karbohidrat, mengandung lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan. Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar, dan gula reduksi. 

 

Sulawesi selatan saat ini gencar dalam dalam pengembangan tanaman porang, dan ada di sepuluh kabupaten yang menjadi pusat pengembangan tanaman porang di sulsel. Seperti Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang, dan hampir semua daerah di Luwu. Harga porang saat ini sekitar Rp9 ribu per kilogram. Jika populasinya dalam satu hektare, 40 ribu, dan satu tanaman menghasilkan 2 kilogram, maka hasilnya Rp 720 juta diperoleh dalam delapan bulan,” walaupun tanaman porang memiliki daya beli yang tinggi akan tetapi jumlah produksi porang ini masih belum memenuhi kebutuhan ekspor, di harapkan tanaman porang ini menjadi sumber ekonomi baru bagi petani di sulsel, dan dapat mendorong stabilitas ekonomi nasional di sektor pertanian pasca

pandemi dan kedepannya.